RSS Feed

Puisi RAHSIA JODOH : Khalil Gibran

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi RAHSIA JODOH : Khalil Gibran

Berpasangan engkau telah diciptakan
Dan selamanya engkau akan
berpasangan
Bergandingan tanganlah dikau
Hingga sayap-sayap panjang nan lebar
lebur dalam nyala
Dalam ikatan agung menyatu kalian
Saling menataplah dalam keharmonian
Dan bukanlah hanya saling menatap ke
depan
Tapi bagaimana melangkah ke tujuan
semula
Berpasangan engkau dalam mengurai
kebersamaan
Kerana tidak ada yang benar-benar
mampu hidup bersendirian
Bahkan keindahan syurga tak mampu
menghapus kesepian Adam
Berpasangan engkau dalam
menghimpun rahmat Tuhan Ya, bahkan
bersama pula dalam menikmatinya
Kerana alam dan kurniaan Tuhan
Terlampau luas untuk dinikmati
sendirian
Bersamalah engkau dalam setiap
keadaan
Kerana kebahagiaan tersedia, bagi
mereka yang menangis
Bagi mereka yang disakiti hatinya, bagi
mereka yang mencari,
bagi mereka yang mencuba
Dan bagi mereka yang mampu
memahami erti hidup bersama
Kerana mereka itulah yang menghargai
pentingnya
orang-orang yang pernah hadir dalam
kehidupan mereka
Bersamalah dikau sampai sayap-sayap
sang maut meliputimu
Ya, bahkan bersama pula kalian dalam
musim sunyi
Namun biarkan ada ruang antara
kebersamaan itu
Tempat angin syurga menari-nari
diantara bahtera sakinahmu
Berkasih-kasihlah, namun jangan
membelenggu cinta
Biarkan cinta mengalir dalam setiap
titisan darah
Bagai mata air kehidupan
Yang gemerciknya senantiasa
menghidupi pantai kedua jiwa
Saling isilah minumanmu tapi jangan
minum dari satu piala
Saling kongsilah rotimu tapi jangan
makan dari pinggan yang sama..
Menyanyilah dan menarilah bersama
dalam suka dan duka
Hanya biarkan masing-masing
menghayati waktu sendirinya
Kerana dawai-dawai biola, masing-masing
punya kehidupan sendiri
Walau lagu yang sama sedang
menggetarkannya
Sebab itulah simfoni kehidupan
Berikan hatimu namun jangan saling
menguasainya
Jika tidak, kalian hanya mencintai
pantulan diri sendiri
Yang kalian temukan dalam dia
Dan lagi, hanya tangan kehidupan yang
akan mampu merangkulnya
Tegaklah berjajar namun jangan
terlampau dekat
Bukankah tiang-tiang candi tidak
dibina terlalu rapat?
Dan pohon jati serta pohon cemara
Tidak tumbuh dalam bayangan masing-masing?

Puisi KASIH SAYANG DAN PERSAMAAN : Khalil Gibran

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi KASIH SAYANG DAN PERSAMAAN : Khalil Gibran

Sahabatku yang papa, jika engkau
mengetahui, bahawa Kemiskinan yang
membuatmu sengsara itu mampu
menjelaskan pengetahuan tentang
Keadilan dan pengertian tentang
Kehidupan, maka engkau pasti berpuas
hati dengan nasibmu.
Kusebut pengetahuan tentang
Keadilan : Kerana orang kaya terlalu
sibuk mengumpul harta utk mencari
pengetahuan. Dan kusebut pengertian
tentang Kehidupan : Kerana orang yang
kuat terlalu berhasrat mengejar
kekuatan dan keagungan bagi
menempuh jalan kebenaran.
Bergembiralah, sahabatku yang papa,
kerana engkau merupakan penyambung
lidah Keadilan dan Kitab tentang
Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau
merupakan sumber kebajikan bagi
mereka yang memerintah terhadapmu,
dan tiang kejujuran bagi mereka yang
membimbingmu.
Jika engkau menyedari, sahabatku
yang papa, bahawa malang yang
menimpamu dalam hidup merupakan
kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk
ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.
Kehidupan ialah suatu rantai yang
tersusun oleh banyak mata rantai yang
berlainan. Duka merupakan salah satu
mata rantai emas antara penyerahan
terhadap masa kini dan harapan masa
depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.
Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api
keagungan jiwa, sedangkan kemewahan
memperlihatkan keburukannya. Duka
melembutkan perasaan, dan Suka
mengubati hati yang luka. Bila Duka
dan kemelaratan dihilangkan, jiwa
manusia akan menjadi batu tulis yang
kosong, hanya memperlihatkan
kemewahan dan kerakusan.
Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah
peribadi sejati Manusia. Tidak dapat
ditukar dengan emas; tidak dapat
dikumpul seperti harta kekayaan.
Mereka yang mewah sering
meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.
Orang muda sekarang jangan sampai
meninggalkan Keimananmu, dan hanya
mengejar kepuasan diri dan
kesenangan semata. Orang-orang papa
yang
kusayangi, saat bersama isteri dan
anak sekembalinya dari ladang
merupakan waktu yang paling mesra
bagi keluarga, sebagai lambang
kebahagiaan bagi takdir angkatan yang
akan datang. Tapi hidup orang yang
senang bermewah-mewahan dan
mengumpul emas, pada hakikatnya
seperti hidup cacing di dalam kuburan.
Itu menandakan ketakutan.
Air mata yang kutangiskan, wahai
sahabatku yang papa, lebih murni
daripada tawa ria orang yang ingin
melupakannya, dan lebih manis
daripada ejekan seorang pencemuh.
Air mata ini membersihkan hati dan
kuman benci, dan mengajar manusia
ikut merasakan pedihnya hati yang patah.
Benih yang kautaburkan bagi si kaya,
dan akan kau tuai nanti, akan kembali
pada sumbernya, sesuai dengan Hukum
Alam. Dan dukacita yang kausandang,
akan dikembalikan menjadi sukacita
oleh kehendak Syurga. Dan angkatan
mendatang akan mempelajari Dukacita
dan Kemelaratan sebagai pelajaran
tentang Kasih Sayang dan Persamaan.
(Dari 'Suara Sang Guru')

Puisi KAHLIL GIBRAN - MIMPI

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi KAHLIL GIBRAN - MIMPI

Kala malam datang dan rasa kantuk
membentangkan selimutnya di wajah
bumi, aku bangun dan berjalan ke laut,
"Laut tidak pernah tidur, dan dalam
keterjagaannya itu laut menjadi
penghibur bagi jiwa yang terjaga.",
Ketika aku sampai di pantai, kabus dari
gunung menjuntaikan kakinya seperti
selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis.
Aku melihat ombak yang berdeburan.
Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu - kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.
Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu.
Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.
Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku.
Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
"Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah.
Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji.
Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."
Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,
"Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus.
Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah."
Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :
"Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna."
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:
'Itulah anak-anak cinta, Buah dari perjuangan, Akibat dari kebebasan, Tiga manifestasi Tuhan, Dan Tuhan adalah ungkapan dari alam yang bijaksana.'
Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.
Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.

Puisi KHALIL GIBRAN (1833-1931) - Kehidupan

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi KHALIL GIBRAN (1833-1931) - Kehidupan

Engkau dibisiki bahawa hidup adalah kegelapan
Dan dengan penuh ketakutan
Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu penuh kebimbangan
Kuwartakan padamu bahawa hidup adalah kegelapan
jika tidak diselimuti oleh kehendak
Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan
Dan segala macam pengetahuan akan kosong bila tidak diiringi kerja
Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta
Maka bila engkau bekerja dengan cinta
Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu
Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain
Dan wujud Tuhan. 

:+: Khalil Gibran :+:

KATA SELEMBAR KERTAS SEPUTIH SALJU - KHALIL GIBRAN

Posted by Renita Prasetya Labels:

KATA SELEMBAR KERTAS SEPUTIH SALJU - KHALIL GIBRAN

Kata selembar kertas seputih salju,"Aku tercipta secara murni, kerana itu aku akan tetap murni selamanya.
Lebih baik aku dibakar dan kembali menjadi abu putih daripada menderita kerana tersentuh kegelapan atau didekati oleh sesuatu yang kotor."
Tinta botol mendengar kata kertas itu. Ia tertawa dalam hatinya yang hitam, tapi tak berani mendekatinya.
Pensil-pensil beraneka warna pun mendengarnya, dan mereka pun tak pernah mendekatinya.
Dan selembar kertas yang seputih salju itu tetap suci dan murni selamanya -suci dan murni- dan kosong.
:+: Khalil Gibran :+:

Puisi KHALIL GIBRAN (1833-1931) - Anak

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi KHALIL GIBRAN (1833-1931) - Anak

Dan seorang perempuan yang
menggendong bayi dalam dakapan
dadanya berkata, Bicaralah pada kami
perihal Anak.
Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan
yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi
bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi
mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat
memberikan cintamu, tapi bukan
fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka
sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh
mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah
hari esok, yang tak pernah dapat
engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka,
tapi jangan cuba menjadikan mereka
sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur
dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat
anakmu menjadi anak-anak panah yang
hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah
keabadian, dan ia merenggangkanmu
dengan kekuatannya, sehingga anak-
anak panah itu dapat meluncur dengan
cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang
pemanah itu sebagai kegembiraan

PUISI LAGU SEORANG GERILYA - W.S. Rendra

Posted by Renita Prasetya Labels:

PUISI LAGU SEORANG GERILYA - W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan, sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.
Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata

Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi


Puisi: HAI, KAMU !

Posted by Renita Prasetya Labels:

 HAI, KAMU ! 

Oleh : W.S. Rendra

Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.
Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Puisi GUGUR Oleh W.S. Rendra

Posted by Renita Prasetya Labels:

Puisi GUGUR

Oleh W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badann

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

GERILYA -W.S. Rendra

Posted by Renita Prasetya Labels:

GERILYA 

Oleh : W.S. Rendra 

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya
Siasat
Th IX, No. 42
1955

pengobatanambeientradisional.wordpress.com | pengobatanpenyakitbatuempedu1.wordpress.com | Obat Varises | obatradangotak10.wordpress.com